
Debut di Panggung Lenong, Abdul Mu’ti Bertekad Hidupkan Kesenian Tradisional
July 13, 2026
Edisi Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah : KH Ahmad Badawi : Nakhoda Tangguh di Tengah Badai Transisi.
July 15, 2026KH Muhammad Yunus Anis: Sang Imam Tentara dan Penjaga Arus Muhammadiyah
Zenza TekSas ( Ir H Zen Zainul HP CWC CHt )
Ketua LSBO PDM Kota Bekasi, Seniman Kemerdekaan, Peraih Rekor MURI
Bagi kalangan TNI, nama “Kyai Haji Muhammad Yunus Anis” bukanlah sosok yang asing.
Di tahun 1945, pria berpostur tinggi besar ini dipercaya memegang tongkat kepemimpinan sebagai Kepala Pusroh Angkatan Darat—atau yang populer disebut “Imam Tentara”
Di sanalah ia mendedikasikan waktunya untuk menempa mental dan spiritual para prajurit di masa awal kemerdekaan.
Kepercayaan besar dari pihak militer ini tentu tidak datang instan. Yunus Anis adalah ulama dengan kedalaman ilmu agama yang sangat disegani.
Lahir di Kauman, Yogyakarta pada 3 Mei 1903, ia merupakan putra sulung dari sembilan bersaudara pasang Haji Muhammad Anis dan Siti Saudah. Menariknya, darah bangsawan mengalir di tubuhnya.
Berdasarkan Surat Kekancingan Kraton Yogyakarta tahun 1961, ia adalah keturunan ke-18 dari Raja Brawijaya V dan berhak menyandang gelar Raden.
Jejak Juang dari Aceh hingga Makassar
Pondasi akhlak dan Al-Qur’an didapatkan Yunus Anis langsung dari ayah dan kakeknya.
Sang ayah sendiri merupakan sahabat perjuangan KH Ahmad Dahlan yang namanya termaktub dalam “recht person” (badan hukum) Muhammadiyah.
Setelah lulus dari Sekolah Rakyat Muhammadiyah Yogyakarta, Yunus Anis merantau ke Batavia untuk belajar di Sekolah Al-Atas dan Sekolah Al-Irsyad di bawah bimbingan langsung Syekh Ahmad Syurkati.
Pendidikan inilah yang mencetaknya menjadi mubalig yang tangguh. Sebagai singa podium dan penggerak, ia menjelajah ke berbagai pelosok Nusantara demi menyebarkan syiar Islam dan melebarkan sayap organisasi. Dari Sigli di Aceh, Padang Panjang di Sumatera Barat, hingga menyeberang ke Makassar dan Alabio di Kalimantan Selatan. Di setiap tanah yang ia injak, cabang-cabang baru Muhammadiyah berhasil didirikan.
Dari Pemuda Hizbul Wathan hingga Sekretaris Umum
Saat dipanggil pulang ke Yogyakarta, Yunus Anis diserahi tugas membina pemuda “Hizbul Wathan” (HW).
Dengan penuh semangat, ia membentuk karakter generasi muda yang kreatif, tangguh, dan beriman teguh. Satu momen ikonik yang terus diingat adalah saat Apel Besar HW di Alun-Alun Utara Yogyakarta; Yunus Anis menunggangi kuda saat memeriksa pasukan, memancarkan aura kepemimpinan yang tegas dan karismatik.
Selain dikenal berjiwa singa, ia adalah seorang administrator dan organisator yang ulung.
Bakat manajemennya terasah sejak memimpin Muhammadiyah Cabang Batavia.
Berkat kecakapannya, ia dipercaya menduduki posisi krusial sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam dua periode (1934–1936 dan 1953–1958).
Menembus Badai Politik Nasional
Tahun 1959 menjadi salah satu fase paling dinamis dalam hidupnya.
Pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan pembubaran partai Masyumi, peta politik memanas akibat manuver PKI.
Di tengah situasi yang tidak menentu ini, Muktamar Muhammadiyah ke-34 di Yogyakarta mendaulat Yunus Anis sebagai “Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1959–1962)”.
Sebuah Pilihan yang Dikritik
Ketika Presiden Soekarno menyusun DPR Gotong Royong (DPR GR), Yunus Anis diminta oleh banyak pihak—termasuk Jenderal A.H. Nasution—untuk bergabung. Langkah ini sempat memicu gelombang kritik dari internal Muhammadiyah yang kala itu menentang sikap otoriter Soekarno.
Namun, dengan tenang dan lugas ia menjawab: “Keterlibatannya di parlemen bukan demi politik praktis jangka pendek, melainkan demi kepentingan jangka panjang umat Islam agar tetap memiliki suara dan keterwakilan di kursi pemerintahan.”
Di akhir masa kepemimpinannya pada tahun 1962—yang bertepatan dengan setengah abad berdirinya Muhammadiyah—Yunus Anis sukses mengawal lahirnya konsep monumental: “Kepribadian Muhammadiyah”, sebuah rumusan ideologis yang digarap oleh tim pimpinan KH Faqih Usman untuk menjaga arah gerak organisasi di masa-masa mendatang.



