
Edisi Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah : KH Muhammad Yunus Anis: Sang Imam Tentara dan Penjaga Arus Muhammadiyah
July 15, 2026KH Ahmad Badawi : Nakhoda Tangguh di Tengah Badai Transisi
Oleh Zenza TekSas ( Ir H Zen Zainul HP CWC CHt )
– Seniman Kemerdekaan, Peraih Rekor MURI
– Ketua LSBO PDM Kota Bekasi
Menakhodai sebuah organisasi besar di tengah ombak politik yang sedang mengamuk membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan—ia memerlukan keberanian moral yang teguh dan ketenangan jiwa. Kombinasi langka inilah yang melekat pada diri K.H. Ahmad Badawi.
Lahir di kampung santri Kauman, Yogyakarta pada 5 Februari 1902, Kiai Badawi tumbuh menjadi sosok ulama yang tidak hanya fasih berbicara di atas mimbar, tetapi juga piawai menjaga kemurnian dakwah di koridor kekuasaan yang penuh intrik.
Kiprah puncaknya tercatat emas saat beliau dipercaya memimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama dua periode berturut-turut, yakni pada 1962–1965 (Muktamar ke-35 di Jakarta) dan 1965–1968 (Muktamar ke-36 di Bandung).
Periode ini bukanlah masa yang tenang. Indonesia sedang berada dalam fase transisi yang amat krusial dan berdarah: pergeseran dari era Orde Lama yang kian condong ke kiri, menuju lahirnya fajar Orde Baru.
Di sinilah letak jasa terbesar Kiai Badawi. Ketika magnet politik ekstrem kala itu begitu kuat menarik organisasi-organisasi kemasyarakatan agar bisa disetir demi syahwat kekuasaan, Kiai Badawi tegak berdiri sebagai benteng.
Dengan ketegasannya, ia berhasil menyelamatkan Muhammadiyah dari intervensi politik luar, memastikan organisasi ini tetap berjalan pada khittah aslinya sebagai gerakan dakwah Islam dan sosial, bukan alat politik praktis.
Menariknya, ketegasan Kiai Badawi tidak lantas membuatnya memusuhi penguasa. Sebaliknya, beliau justru memiliki kedekatan emosional yang erat dengan Presiden Soekarno.
Bung Karno menaruh hormat yang amat besar kepadanya, hingga mengangkat Kiai Badawi sebagai penasihat pribadi presiden di bidang agama dan sosial kemasyarakatan.
Hubungan ini bukanlah hubungan antara atasan dan bawahan yang selalu berkata “asal bapak senang.”
Kiai Badawi adalah tipe penasihat yang tulus dan berani. Jika Bung Karno mengambil kebijakan yang keliru atau melenceng dari nilai-nilai agama dan keadilan, Kiai Badawi tidak ragu untuk melayangkan teguran dan kritik langsung secara empat mata kepada sang Proklamator. Ketegasan yang santun namun menohok ini membuat Bung Karno selalu segan dan mendengarkan nasihat-nasihatnya.
Di luar kedekatannya dengan istana, Kiai Badawi adalah seorang ideolog dan penggerak di akar rumput. Ia aktif di panggung politik nasional sebagai tokoh Partai Masyumi, wadah perjuangan politik umat Islam kala itu. Kedalaman ilmu agamanya yang luar biasa bukan didapat secara instan, melainkan hasil dari bertahun-tahun menimba ilmu langsung dari berbagai ulama besar tanah air.
Hingga akhir hayatnya, K.H. Ahmad Badawi tetaplah seorang pendidik yang bersahaja. Beliau membuktikan bahwa seorang ulama bisa masuk ke dalam pusaran politik dan mendekati lingkaran kekuasaan tanpa harus kehilangan integritasnya. Bagi Muhammadiyah dan bangsa Indonesia, ia adalah jangkar yang menjaga kapal besar ini tetap seimbang saat badai sejarah menerpanya dengan dahsyat.



