
Edisi Khusus Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah : KH. Hisyam: “Arsitek Pendidikan Modern Muhammadiyah”
July 12, 2026
Debut di Panggung Lenong, Abdul Mu’ti Bertekad Hidupkan Kesenian Tradisional
July 13, 2026Buya A.R. Sutan Mansur : Singa Dakwah Muhammadiyah dari Ranah Minang
Zenza TekSas ( Ir H Zen Zainul HP CWC CHt )
Ketu LSBO PDM Kota Bekasi, Seniman Kemerdekaan, Peraih Rekor MURI

Kisah tentang Ahmad Rasyid Sutan Mansur—atau yang lebih akrab disapa Buya A.R. Sutan Mansur—adalah cerita tentang keteguhan, keluwesan strategi, dan keberanian seorang pemimpin.
Di kalangan warga Muhammadiyah, beliau dihormati sebagai “Buya Tuo,” sebuah julukan yang mencerminkan kedalaman ilmu, kematangan jiwa, dan karisma seorang ulama yang mengayomi.
Jika kita menengok sejarah pergerakan Islam di Indonesia, nama Buya Sutan Mansur tidak bisa dipisahkan dari peta penyebaran Muhammadiyah di luar Pulau Jawa.
Mari kita selami perjalanan hidup dan warisan besar yang ditinggalkannya.
Berguru Langsung pada Sang Pendiri
Lahir di tepian Danau Maninjau, Sumatra Barat, pada 15 Desember 1895, Sutan Mansur tumbuh dalam kultur Minangkabau yang kental dengan adat dan agama.
Namun, titik balik pemikiran dan garis hidupnya justru terjadi saat beliau merantau ke Pekajangan, Pekalongan.
Di tanah Jawa inilah, beliau bertemu dan berguru langsung kepada K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Kagum dengan ide-ide pembaruan Islam yang digelorakan K.H. Ahmad Dahlan, Sutan Mansur memutuskan untuk mewakafkan hidupnya dalam jalur dakwah ini.
Hubungan guru-murid yang erat ini membentuk karakter Sutan Mansur menjadi kader yang tangguh. Kepercayaan organisasi pun tumbuh pesat, hingga pada tahun 1923, beliau dipercaya memimpin Muhammadiyah Cabang Pekalongan.
Menembus Batas, Menanam Akar di Sumatra
Setelah matang di Jawa, Buya Sutan Mansur pulang ke tanah kelahirannya membawa misi besar: menanam jangkar dakwah Muhammadiyah di Sumatra. Tugas ini tentu tidak mudah, mengingat Sumatra kala itu memiliki tradisi keagamaan dan adat yang sangat kuat.
Namun, di sinilah letak kelebihan Buya Sutan Mansur.
Beliau berdakwah dengan pendekatan yang lugas namun luwes, tanpa konfrontasi yang merusak tatanan sosial.
Hasilnya luar biasa. Beliau sukses memelopori terbentuknya cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah di Sumatra.
Berkat kegigihannya, Sumatra bertransformasi menjadi salah satu episentrum pergerakan Islam berkemajuan terbesar di luar Jawa, yang melahirkan tokoh-tokoh bangsa berkaliber internasional.
Menakhodai Organisasi di Tengah Badai Politik (1953–1959)
Puncak pengabdiannya di struktur organisasi terjadi ketika beliau terpilih menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-6 pada Kongres ke-32 di Purwokerto tahun 1953. Beliau menakhodai organisasi ini selama dua periode hingga tahun 1959.
Periode 1950-an adalah masa-masa yang sangat krusial sekaligus rawan bagi Indonesia.
Gejolak politik nasional sedang membara, ketegangan antar-ideologi menajam, bahkan terjadi berbagai pergolakan daerah di Sumatra dan wilayah lain. Di tengah badai tersebut, sekolah-sekolah dan aset Muhammadiyah terancam telantar atau terseret konflik.
Di sinilah peran Buya Sutan Mansur sebagai penyelamat teruji.
Menggunakan karisma personalnya dan pendekatan diplomasi yang sejuk, beliau turun langsung ke lapangan.
Beliau berhasil meyakinkan semua pihak yang berkonflik agar sekolah-sekolah Muhammadiyah tetap steril dari urusan politik praktis dan peperangan, sehingga proses pendidikan anak bangsa tidak terputus. Beliau berhasil mengembalikan fokus organisasi pada khitah aslinya: memurnikan akidah, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meneguhkan ruh Islam berkemajuan.
Buya A.R. Sutan Mansur mengajarkan kepada kita bahwa menjadi pejuang dakwah tidak harus kaku.
Diperlukan ketegasan dalam memegang prinsip, namun harus dibarengi dengan keluwesan dalam merangkul semua golongan.
Warisannya berupa jaringan Muhammadiyah yang kokoh di Sumatra dan bertahannya institusi pendidikan di masa krisis adalah bukti nyata dari kepemimpinan yang berorientasi pada solusi dan kemaslahatan umat.

