
Edisi Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah : Buya A.R. Sutan Mansur : Singa Dakwah Muhammadiyah dari Ranah Minang
July 13, 2026Oleh timredaksi• •
MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Sorak meriah panggung pamentasan Lenong Betawi bertajuk “Lela Oh Lela” tersaji dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat (LSB PP) Muhammadiyah.
Dalam pementasan lenong yang terselenggara di Gedung Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Kota Jakarta Pusat, Jumat Malam, (10/7) menghadirkan Abdul Mu’ti Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI) sebagai pemain utama yang berperan sebagai “Babeh Mu’ti” yaitu seorang babeh dengan ciri khas busana khas betawi, mengenakan songkok hitam, baju koko putih, serta sarung berwarna hijau yang disampirkan di bahunya.
Dalam pementasan yang digelar selama kurang lebih 1,5 jam itu, sekaligus menjadi momentum unik dan berkesan bagi Mu’ti. Pasalnya, pengalaman ini merupakan kali pertama Mu’ti tampil dalam ajang pertunjukan panggung.
“Saya baru pertama kali tampil dalam pertunjukan panggung. Motivasi saya untuk menyukseskan Rakernas LSB dan menghidupkan kesenian tradisional sebagai kekayaan budaya bangsa,” ujar Mu’ti.
Dalam Rakernas LSB PP Muhammadiyah ini Mu’ti berharap bahwa Muhammadiyah yang sejak awal berkomitmen untuk berdakwah melalui berbagai media, termasuk di dalamnya melalui kesenian dan kebudayaan dapat menghadirkan dakwah yang semakin menyentuh seluruh elemen warga persyarikatan, juga kalangan di luar Muhammadiyah.
“Muhammadiyah sejak awal memiliki komitmen untuk berdakwah melalui berbagai media, termasuk di dalamnya melalui kesenian. Selain sebagai sarana ekspresi jiwa, seni dapat menjadi sarana dakwah yang menyentuh hati, mudah dipahami, dan universal menjangkau khalayak luas,” ujar Mu’ti.
“Pertunjukan lenong sebagai rangkaian acara Rakernas LSB tadi malam tidak hanya disaksikan warga Muhammadiyah tetapi juga kalangan di luar Muhammadiyah, bahkan beberapa ada yang non-Muslim,” tambahnya.
Ia juga mengungkap dalam menjalankan roda dakwah keseniannya, Muhammadiyah perlu memperluas jangkauan melalui beragam kesenian, utamanya menggerakkan komunitas seni sebagai penggerak dakwah.
Sebagai informasi tambahan, pagelaran ini mengisahkan tentang konflik batin seorang perempuan bernama “Lela” yang ingin mempertahankan pilihan hidup dan cintanya. Namun, ditengah gejolak tersebut, Lela seorang gadis cantik harus berjuang meyakinkan kedua orang tuanya.
Kesetiaan Lela terhadap pilihannya itu akhirnya membuahkan hasil dimana Rahman, seorang lelaki yang menjadi cinta sejatinya akhirnya dapat meyakinkan kedua orang tua Lela. Sehingga, dalam ending cerita ini kedua pasangan tersebut dapat dipersatukan dalam ikatan pernikahan pada usia yang tidak lagi muda.
Naskah tersebut disutradarai oleh Imam Sulawardho Bumiayu, dengan narasi dibawakan Nurlina Rahman. Melalui kisah tersebut, pementasan Lela Oh Lela menyajikan pesan mendalam tentang keteguhan hati, kesetiaan, serta perjuangan dalam pilihan hidup dan mempertahankan cinta sejati di tengah kuatnya kehendak keluarga dan tekanan sebuah tradisi. (Bhisma)




