
Edisi Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah : Nyai Ahmad Dahlan: Kisah Ibu Bangsa yang Menembus Batas demi Emansipasi Perempuan
July 10, 2026
Muhammadiyah Perkuat Dakwah Kultural, Rakernas LSB Bahas Strategi Seni dan Budaya
July 10, 2026Oleh timredaksi•
MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kesehatan merupakan harapan setiap manusia. Dalam lirik lagu Indonesia Raya terdapat penggalan “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Penyebutan jiwa lebih dahulu menunjukkan bahwa kesehatan fisik tidak dapat dipisahkan dari kesehatan jiwa.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, menyampaikan bahwa Islam telah memberikan tuntunan untuk membangun jiwa yang sehat melalui Al-Qur’an. Hal tersebut disampaikannya dalam tayangan tausiah di kanal tvMU pada Selasa (7/7).
“Salah satu kriteria jiwa yang sehat adalah jiwa yang optimistis, tidak pesimistis, serta tidak memberi ruang bagi hasad, iri, dan dendam. Itulah yang diajarkan dalam Islam,” ujar Saad.
Ia kemudian mengutip ungkapan Latin mens sana in corpore sano yang berarti “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Namun, menurutnya, ungkapan tersebut juga dapat dipahami sebaliknya, yakni bahwa kesehatan jiwa menjadi fondasi bagi kesehatan fisik.
“Karena itu, untuk memperoleh kesembuhan, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur’an memberikan tuntunan tentang hal tersebut,” katanya.
Saad menjelaskan bahwa kata syifa’ (الشِّفَاء) dalam Al-Qur’an bermakna penyembuhan sekaligus kesembuhan. Kata tersebut disebutkan sebanyak empat kali, yakni dalam Surah Yunus ayat 57, An-Nahl ayat 69, Al-Isra ayat 82, dan Fussilat ayat 44.
Menurutnya, tiga dari empat ayat tersebut menjelaskan fungsi Al-Qur’an sebagai penyembuh bagi jiwa, sedangkan satu ayat lainnya menerangkan madu sebagai obat.
“Maknanya, Al-Qur’an menjadi syifa’ bagi jiwa. Membaca Al-Qur’an akan menenangkan dan menyembuhkan jiwa, yang kemudian berdampak pada kesehatan fisik,” jelasnya.
Saad mengingatkan bahwa setiap muslim membaca Al-Qur’an ketika menunaikan salat. Namun, ia mengajak umat Islam untuk membiasakan membaca Al-Qur’an di luar waktu salat.
Menurutnya, membaca satu juz Al-Qur’an hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit. Dengan membiasakan membaca dua juz setiap hari, seseorang dapat mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dalam sebulan.
“Membaca Al-Qur’an secara tertib dan berkesinambungan akan memberikan pengaruh yang baik bagi kesehatan jiwa kita,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an tidaklah seberat perjuangan Rasulullah SAW ketika menerima wahyu. Karena itu, tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menjauh dari Al-Qur’an.
“Al-Qur’an adalah kalamullah. Ketika ayat-ayatnya keluar dari lisan kita, itu akan memberikan kekuatan. Apa yang kita ucapkan dari kalam Allah akan menghadirkan energi dan keberkahan dalam hidup kita,” tuturnya.
Pada akhir tausiahnya, Saad kembali mengajak umat Islam untuk senantiasa kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah (ar-ruju’ ilal-Qur’an was-Sunnah). Menurutnya, dengan membiasakan lisan membaca kalam Allah, seseorang akan memperoleh jiwa yang sehat, menjalani kehidupan dengan penuh kekuatan, serta berharap meraih husnul khatimah. (syafa)




