
Edisi Kemerdekaan RI Ke 81 – Tokoh Muhammadiyah : Bung Karno dan Muhammadiyah : Jejak Ideologis Sang Proklamator
July 7, 2026Simfoni Kemanusiaan: Dr. Soetomo dan Jejak Pengabdian di Muhammadiyah
Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt
Ketua LSBO PDM Kota Bekasi, Seniman Kemerdekaan & Pemecah Rekor Muri

Jejak sejarah bangsa sering kali menyisakan cerita tentang bagaimana sekat-sekat ideologi melebur begitu saja ketika dihadapkan pada satu urusan: kemanusiaan.
Salah satu jalinan kisah yang begitu indah namun jarang dikupas secara mendalam adalah bagaimana seorang Dokter Soetomo—tokoh nasionalis tulen yang kita kenal sebagai motor penggerak Budi Utomo—berdiri megah sebagai salah satu pilar penopang amal usaha kesehatan Muhammadiyah.
Hubungan ini bukan sekadar relasi profesional biasa, melainkan sebuah simfoni perjuangan yang membuktikan bahwa nasionalisme dan nilai Islam berkemajuan bisa berjalan beriringan tanpa harus saling tumpang tindih.
Bagi Dr. Soetomo, menyembuhkan tubuh rakyat yang sakit adalah bagian tak terpisahkan dari upaya menyembuhkan mental bangsa yang sedang terjajah.
Poin-Poin Kiprah dan Komitmen Dr. Soetomo
Untuk melihat lebih dekat bagaimana kontribusi nyata sang dokter dalam menggerakkan roda kemanusiaan ini, berikut adalah poin-poin penting kiprahnya:
Pelopor Dakwah Kesehatan Kaum Dhuafa:
Di tengah situasi kolonial di mana akses medis hanya milik kaum elite, Dr. Soetomo hadir mendobrak batasan tersebut. Beliau menjadi sosok kunci di balik berdirinya Poliklinik Muhammadiyah (cikal bakal RS PKU Muhammadiyah) di Yogyakarta pada tahun 1923.
Aktor Utama Poliklinik Surabaya:
Tidak berhenti di Yogyakarta, insting kemanusiaannya bergerak ke Surabaya. Beliau merintis Poliklinik Muhammadiyah di sana dan meresmikan pembukaannya pada 14 September 1924 melalui sebuah pidato bersejarah yang membakar semangat kepedulian sosial untuk menolong rakyat yang kesusahan.
Melampaui Sekat Ideologi:
Meskipun sering kali dikategorikan sebagai tokoh nasionalis sekuler, Dr. Soetomo memiliki kedekatan ideologis yang kuat dengan Muhammadiyah.
Beliau sangat mengagumi etos kemandirian organisasi ini dan menjalin persahabatan yang sangat erat dengan tokoh besar Muhammadiyah, K.H. Mas Mansur.
Kesetiaan Hingga Akhir Hayat:
Komitmen Dr. Soetomo bukanlah perjuangan sesaat.
Sejak tahun 1925 hingga wafatnya pada tahun 1938, beliau secara konsisten mengabdikan keahlian medisnya di institusi kesehatan Muhammadiyah, membuktikan kesetiaan totalnya pada kemaslahatan umat.
“Beliau adalah pembela kaum miskin yang menggunakan ilmu medisnya bukan untuk menumpuk harta, melainkan sebagai alat pembebasan dari penderitaan dan ketertinggalan.”
Lewat dedikasi panjang yang melintasi batas-batas kelompok ini, sang dokter telah mewariskan sebuah pesan kuat bagi generasi hari ini: bahwa untuk merawat Indonesia, kita membutuhkan kolaborasi yang tulus, keluwesan dalam bergerak, dan kerja nyata yang langsung menyentuh akar rumput.


