
GowesMU PDM Kota Bekasi: Sehat Bersama di CFD, Perkuat Syiar di Dalam Kota
July 6, 2026Bung Karno dan Muhammadiyah: Jejak Ideologis Sang Proklamator
Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt.
Ketua LSBO PDM Kota Bekasi,
Seniman Kemerdekaan, Peraih Rekor MURI

Banyak yang mengenal Soekarno hanya sebagai Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia. Namun, sejarah mencatat sisi lain yang tak kalah penting:
Bung Karno adalah seorang kader, tokoh, sekaligus saksi hidup dari gerak maju Muhammadiyah.
Bagi Soekarno, organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini bukan sekadar wadah berorganisasi, melainkan rumah bagi pemikiran Islam yang progresif dan berkemajuan.
Kedekatan historis dan ideologis ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil tempaan perjalanan hidupnya yang panjang:
Berguru pada KH Ahmad Dahlan sejak Remaja
Benih itu tertanam di Surabaya, saat Soekarno muda tinggal di rumah kos milik HOS Tjokroaminoto.
Di sinilah ia kerap menyerap langsung ilmu dan pemikiran dari KH Ahmad Dahlan. Bagi Soekarno, Kiai Dahlan adalah sosok yang membawa kesegaran (rejuvenation) bagi pemikiran Islam, sebuah pandangan yang kemudian membentuk cara pandang Soekarno terhadap agama dan kebangsaan.
Menjadi Pengurus Aktif di Pengasingan Bengkulu
Saat diasingkan oleh kolonial Belanda ke Bengkulu (1938–1942), Bung Karno tidak berdiam diri.
Ia justru meleburkan diri dengan menjadi pengurus Muhammadiyah dan dipercaya menjabat sebagai Ketua Bagian Pengajaran.
Di sana, ia menuangkan energinya untuk merancang gedung sekolah dan aktif menulis gagasan-gagasan tentang Islam yang modern dan maju.
“Sekali Muhammadiyah, Tetap Muhammadiyah”
Ikatan ideologis yang kuat ini membuat Soekarno kerap dijuluki sebagai “Begawan Politik” di lingkungan persyarikatan. Penegasan paling ikonik muncul saat Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah tahun 1962 di Jakarta. Di hadapan ribuan warga Muhammadiyah, dengan bangga ia melontarkan kalimat bersejarah: *”Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah.
Pada akhirnya, magnet terbesar yang mengikat Bung Karno dengan Muhammadiyah adalah kesamaan visi. Ia sangat mengagumi komitmen organisasi ini dalam membela kaum lemah (dhuafa) dan memajukan dunia pendidikan.
Bagi Soekarno, napas Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah berjalan beriringan dengan cita-cita besar nasionalismenya untuk membangun Indonesia yang cerdas dan berdaulat.

