
Muhammadiyah Perkuat Pendidikan Karakter Lewat Pengembangan Pembelajaran ISMUBA
July 3, 2026KH Mas Mansur: Nafas Pembaharuan Islam dan Martir Kemerdekaan Indonesia
Oleh : Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt

Fajar pemikiran Islam modernis di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari derap langkah seorang pemuda asal Kampung Ampel, Surabaya.
Dilahirkan pada 25 Juni 1896 dari rahim keluarga ulama terpandang—putra dari KH Mas Ahmad Marzuqi—Mas Mansur kecil tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan tradisi santri. Namun, garis hidupnya tidak berhenti di surau-surau lokal. Takdir membawanya melintasi samudra, menimba ilmu langsung ke jantung spiritual Islam di Mekkah, hingga mereguk segarnya mata air pembaruan di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Sekembalinya ke tanah air, Mas Mansur tidak hanya membawa selembar ijazah, melainkan sebuah kegelisahan intelektual. Ia melihat umat sedang tertidur lelap dalam kungkungan takhayul, bid’ah, dan khurafat, sekaligus tak berdaya di bawah tumit kolonialisme.
Baginya, Islam harus bergerak. Islam harus hidup, rasional, dan membebaskan. Gagasan segar inilah yang kemudian menemukan rumahnya di Muhammadiyah.
Kepemimpinan Mas Mansur di Muhammadiyah (1937–1942) menandai sebuah era baru yang dinamis.
Di bawah kendalinya, organisasi ini tidak sekadar menjadi gerakan sosial-keagamaan, tetapi menjelma sebagai kekuatan kultural yang tertata rapi.
Salah satu warisan terbesarnya yang masih hidup hingga hari ini adalah Majelis Tarjih—sebuah lembaga repositori pemikiran tempat hukum-hukum Islam digodok secara kontekstual, rasional, dan lepas dari kejumudan bermazhab. Mas Mansur adalah tipikal ulama yang lincah; ia berdakwah lewat mimbar, namun tajam pula di atas kertas. Tulisan-tulisannya tersebar, memantik api kesadaran umat untuk bangkit dari ketertinggalan.
Namun, sejarah tidak membiarkan seorang pemikir besar hanya berdiam di dalam masjid.
Memasuki dekade 1940-an, pusaran politik kemerdekaan memanggilnya ke panggung utama nasional.
Bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara, Mas Mansur menggenapi pilar Empat Serangkai. Kehadirannya di kelompok elite ini menjadi jembatan krusial yang merekatkan kelompok nasionalis sekuler dan massa Islam.
Di masa pendudukan Jepang, posisi ini digunakannya dengan cerdik: sebagai perisai sekaligus motor penggerak massa untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
Tragisnya, komitmen Mas Mansur terhadap republik dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Ketika Belanda kembali mencoba menancapkan kuku jajahannya pasca-proklamasi, Mas Mansur berdiri tegak menolak tunduk. Baginya, kemerdekaan adalah harga mati yang selaras dengan tauhid. Akibat sikap keras kepala yang beralaskan prinsip itu, ia ditangkap oleh tentara NICA.
Di balik jeruji besi, tubuhnya dipaksa tunduk lewat berbagai penganiayaan, namun rorotan fisiknya tak pernah mampu mematahkan keteguhan imannya. Pada 25 April 1946, dalam sunyinya ruang tahanan, KH Mas Mansur mengembuskan napas terakhirnya.
Ia gugur sebagai martir, seorang Pahlawan Nasional yang membuktikan bahwa kesalehan agama dan nasionalisme bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan satu tarikan napas perjuangan.


