
Edisi Khusus Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah : KH IBRAHIM : Sang Penerus pembawa Perubahan
July 11, 2026
KH. Hisyam: “Arsitek Pendidikan Modern Muhammadiyah”
Zenza TekSas (Ir H Zen Zainul HP CWC CHt)
– Ketua LSBO PDM Kota Bekasi

Jika kita menikmati bagaimana sekolah-sekolah Islam hari ini bisa tampil keren, modern, dan tidak kalah saing dengan sekolah umum, kita perlu berterima kasih pada fondasi yang diletakkan oleh KH. Hisyam.
Beliau adalah Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ketiga yang memimpin pada periode 1934–1937. Sebagai murid langsung dari KH. Ahmad Dahlan, KH. Hisyam berhasil menerjemahkan visi besar sang guru menjadi sebuah sistem yang rapi, terstruktur, dan berdampak luas bagi bangsa.
Bukan tanpa alasan beliau dijuluki sebagai “Bapak Pendidikan Muhammadiyah”.
Pada masa itu, KH. Hisyam melihat adanya jurang pemisah yang besar dalam dunia pendidikan.
Di satu sisi, ada sekolah kolonial Belanda yang modern tapi sekuler. Di sisi lain, ada pesantren tradisional yang kuat agamanya tapi abai terhadap ilmu umum.
KH. Hisyam mendobrak sekat ini dengan memadukan kurikulum agama dan umum ke dalam satu atap.
Salah satu terobosan monumentalnya adalah mendirikan “Hollandsche Inlandsche School (HIS) met de Quran”. Langkah ini sangat cerdas sekaligus berani, karena berhasil menyamakan mutu dan gengsi sekolah Muhammadiyah dengan sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial Belanda, tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Tidak hanya menyasar masyarakat perkotaan atau kaum elite, beliau juga peduli pada rakyat kecil di akar rumput dengan mendirikan “Volkschool”—sekolah desa berdurasi tiga tahun—agar anak-anak di pelosok bisa mencicipi bangku sekolah dan bebas dari buta huruf.
Kepemimpinan KH. Hisyam yang visioner ini mendapat kepercayaan penuh dari warga persyarikatan.
Terbukti, beliau terpilih sebagai ketua secara berturut-turut dalam tiga kongres berturut-turut di tempat yang berbeda: Kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta (1934), Kongres ke-24 di Banjarmasin (1935), dan Kongres ke-25 di Jakarta (1936).
Mobilitas kongres antar-pulau ini juga menjadi bukti bahwa di bawah arahannya, Muhammadiyah kian meluas secara nasional.
Namun, warisan KH. Hisyam bukan hanya soal papan tulis dan kurikulum. Beliau adalah sosok di balik layar yang meletakkan fondasi manajemen organisasi Muhammadiyah menjadi jauh lebih tertib dan rapi. Di tangan beliau, administrasi persyarikatan ditata dengan disiplin tinggi, membuat gerak organisasi yang makin membesar ini tetap terkendali dan efisien.
Melalui kombinasi antara ketertiban organisasi dan modernisasi pendidikan, KH. Hisyam berhasil membawa Muhammadiyah melompat maju. Beliau membuktikan bahwa untuk mencetak generasi muda yang unggul, ilmu agama dan ilmu dunia tidak boleh dipisah, melainkan harus saling menguatkan.


