
Edisi Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah :K.H. Faqih Usman: Sang Negarawan dan Pemimpin yang Bersahaja
July 16, 2026
Edisi Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah : KH. Ahmad Azhar Basyir: Ulama Cendekia yang Bersahaja
July 18, 2026KH AR Fachruddin: Sang Teladan Kesederhanaan dalam Napas
Oleh Zenza TekSas ( Ir H Zen Zainul HP CWC CHt )
– Seniman Kemerdekaan, Peraih Rekor MURI
– Ketua LSBO PDM Kota Bekasi
Di antara deretan tokoh besar yang pernah menakhodai Muhammadiyah, nama KH Abdur Rozak Fachruddin atau yang akrab disapa Pak AR, selalu menempati ruang istimewa di hati umat.
Memimpin organisasi Islam terbesar ini selama 22 tahun, tepatnya dari tahun 1968 hingga 1990,
Pak AR bukan sekadar pemimpin administratif.
Beliau adalah sosok yang membuktikan bahwa otoritas tertinggi sebuah organisasi bisa dijalankan dengan kesederhanaan yang luar biasa.
Memimpin dengan Keteladanan
Gaya kepemimpinan Pak AR sering disebut sebagai bentuk nyata dari “servant leadership” atau kepemimpinan yang melayani.
Di tengah posisi beliau sebagai orang nomor satu di Muhammadiyah,
Pak AR tidak pernah menjaga jarak dengan umat.
Beliau dikenal luas sebagai sosok yang hidup sangat bersahaja; rumahnya sederhana, dan beliau tidak canggung untuk beraktivitas menggunakan sepeda atau bahkan menumpang becak dalam kesehariannya.
Bagi Pak AR, jabatan adalah beban amanah, bukan fasilitas untuk menonjolkan diri.
Kesederhanaan ini justru menjadi magnet yang membuat Muhammadiyah semakin dicintai oleh masyarakat akar rumput.
Beliau meruntuhkan sekat antara pimpinan pusat dan warga di pedesaan, menjadikan organisasi ini terasa sangat dekat dan membumi.
Dakwah Sejuk di Masa Penuh Tekanan
Masa kepemimpinan Pak AR bertepatan dengan era Orde Baru, sebuah periode di mana dinamika politik nasional sangat ketat dan penuh tekanan.
Namun, Pak AR memiliki kecerdasan dalam berdakwah. Beliau memilih jalan yang sejuk, menghindari konflik struktural yang tidak perlu, dan lebih fokus pada penguatan basis umat.
Strategi dakwahnya sangat khas: beliau merangkul masyarakat bawah tanpa menghakimi. Saat menghadapi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi kejawen, Pak AR tidak menggunakan cara-cara keras.
Sebaliknya, beliau dengan sabar menanamkan nilai-nilai Islam berkemajuan dan akidah yang murni melalui tutur kata yang lembut dan mudah dicerna.
Beliau mengajarkan bahwa dakwah adalah mengajak, bukan memukul; merangkul, bukan memukul mundur.
Ekspansi Amal Usaha dan Warisan Abadi
Meskipun tampil dengan gaya yang bersahaja, kepemimpinan Pak AR justru menjadi masa keemasan dalam pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Ekspansi besar-besaran terjadi di bidang pendidikan, seperti pendirian sekolah dan madrasah, serta sektor kesehatan melalui pembangunan berbagai poliklinik dan rumah sakit di berbagai pelosok daerah.
Hal ini menunjukkan bahwa kesederhanaan gaya hidup tidak menghalangi visi kemajuan yang besar.
Hingga hari ini, warisan Pak AR tidak hanya berupa gedung-gedung sekolah atau rumah sakit. Pemikiran beliau yang tertuang dalam buku-buku dakwah yang ringkas dan populer tetap relevan dibaca siapa saja.
Pak AR adalah simbol perekat umat, sosok yang berhasil menavigasi Muhammadiyah melalui tantangan zaman dengan tetap menjaga ruh organisasi yang tulus, jujur, dan tidak berjarak dengan masyarakat.
Beliau adalah potret nyata bagaimana seorang pemimpin besar bisa tetap rendah hati hingga akhir masa jabatannya.




