
Tak Hanya Tempat Ibadah, Masjid Muhammadiyah Didorong Menjadi Pusat Penguatan Ekonomi Umat
July 22, 2026Memasuki bulan Safar, umat Islam kembali diingatkan pada salah satu fase paling menentukan dalam sejarah Islam. Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah, 1 Safar 1448 H bertepatan dengan 15 Juli 2026. Momentum ini menjadi kesempatan untuk menengok hijrah Rasulullah Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah yang menjadi titik balik lahirnya peradaban Islam.
Hijrah memang sering dikaitkan dengan datangnya Tahun Baru Hijriah pada bulan Muharram. Namun, secara historis, keberangkatan Rasulullah SAW dari Makkah justru berlangsung pada bulan Safar. Hal ini menjadi salah satu penjelasan yang disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Akhmad Arif Rifan, dalam Pengajian Malam Selasa di Yogyakarta.
Menurutnya, Rasulullah SAW memulai hijrah pada 27 Safar tahun ke-14 kenabian, yang bertepatan dengan sekitar 12 atau 13 September 622 M. Adapun penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriah baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA karena bulan tersebut dipandang sebagai awal dimulainya tekad kaum Muslimin untuk berhijrah setelah Baiat Aqabah. Dengan demikian, Muharram menjadi penanda awal kalender Islam, sedangkan peristiwa hijrah itu sendiri berlangsung pada bulan Safar.
Sesampainya di Madinah, Rasulullah SAW segera membangun fondasi masyarakat Islam melalui tiga langkah besar. Pertama, mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, dan pembinaan umat. Masjid tidak hanya menjadi tempat menunaikan salat, tetapi juga pusat lahirnya berbagai kebijakan yang membangun masyarakat Madinah.
Kedua, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Ikatan persaudaraan ini melampaui hubungan darah, suku, maupun status sosial. Al-Qur’an mengabadikan sikap kaum Anshar yang lebih mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri meskipun mereka juga berada dalam keadaan kekurangan. Nilai ukhuwah inilah yang menjadi kekuatan utama masyarakat Islam pada masa awal.
Ketiga, Rasulullah SAW menyusun perjanjian yang mengatur kehidupan internal umat Islam sekaligus membangun kehidupan sosial yang tertib di Madinah. Langkah tersebut menjadi fondasi terbentuknya masyarakat yang damai, adil, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Karena itu, datangnya bulan Safar semestinya tidak hanya dipandang sebagai pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Safar menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu diawali oleh keberanian meninggalkan keburukan menuju kebaikan.
Meneladani hijrah Rasulullah SAW berarti terus memperbaiki diri, menjaga integritas, memperkuat persaudaraan, dan menjadikan sirah Nabi sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Sebab, sebagaimana ditegaskan Akhmad Arif Rifan, siapa yang menginginkan kebahagiaan dan keselamatan hendaknya mengikuti petunjuk Rasulullah SAW, mengenal perjalanan hidup beliau, serta meneladani akhlaknya dalam setiap aspek kehidupan.




