
Memasuki Bulan Safar, Inilah Bulan Dimulainya Hijrah Rasulullah ke Madinah. Penulis Ilham.
July 22, 2026
Edisi Kemerdekaan RI Ke 81. Tokoh Muhammadiyah : KH M Djindar Tamimy: Pejuang, Pendidik, dan Ideolog Muhammadiyah
July 24, 2026Merawat Dhuafa dari Surau ke Rumah Sakit: Warisan Kemanusiaan H.M. Syudja’
Oleh Zenza TekSas ( Ir. H. Zen Zainul HP., CWC., CHt)
– Seniman Kemerdekaan Peraih Rekor MURI
– Ketua LSBO PDM Kota Bekasi
Sejarah sering kali mencatat bahwa gagasan besar kerap lahir di tengah keterbatasan dan cemoohan.
Hal inilah yang dialami oleh H.M. Syudja’ pada awal abad ke-20.
Sebagai salah satu murid paling visioner dari pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, ia dipercaya untuk memimpin sebuah misi kemanusiaan yang pada masanya dianggap mustahil.
Dari sebuah ide yang sempat ditertawakan, langkah awal yang dirintis Syudja’ kini telah bertransformasi menjadi salah satu pilar pelayanan kesehatan dan sosial terbesar di Indonesia.
Gagasan Besar yang Sempat Menjadi Bahan Tertawaan
Perjalanan panjang pelayanan kesehatan Muhammadiyah bermula dari Rapat Anggota Istimewa pada 18 Juni 1920.
Dalam forum tersebut, K.H. Ahmad Dahlan secara khusus menunjuk H.M. Syudja’ untuk memimpin bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang baru saja dibentuk.
Tanpa diduga, Syudja’ memaparkan rencana yang sangat ambisius: mendirikan rumah sakit, rumah miskin, dan panti asuhan bagi kaum marjinal.
Mendengar rencana tersebut, sebagian besar peserta rapat justru tertawa.
Mereka menganggap gagasan itu sebagai khayalan belaka mengingat Muhammadiyah saat itu adalah organisasi yang masih muda dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas.
Namun, di balik keraguan banyak orang, K.H. Ahmad Dahlan justru berdiri sebagai pendukung utama yang memberikan lampu hijau penuh bagi langkah sang murid.
Dari Teologi Al-Ma’un Menjadi Klinik PKO Pertama (1923)
Tidak patah arang oleh cemoohan, H.M. Syudja’ bergerak dengan berbekal keyakinan mendalam serta semangat teologi Al-Ma’un yang diajarkan oleh guru tercintanya.
Bagi mereka, ayat-ayat tentang kepedulian terhadap fakir miskin tidak cukup hanya dihafal atau dikaji, melainkan harus diejawantahkan dalam bentuk aksi nyata.
Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil pada 15 Februari 1923. H.M. Syudja’ berhasil meresmikan sebuah balai kesehatan atau klinik sederhana yang berlokasi di Kampung Jagang, Yogyakarta.
Klinik ini didirikan dengan tujuan yang sangat mulia: memberikan pelayanan kesehatan secara gratis atau dengan biaya sangat murah bagi kaum fakir miskin dan dhuafa.
Kehadiran klinik ini sekaligus menjadi tonggak sejarah karena mampu menandingi layanan kemanusiaan eksklusif yang sebelumnya hanya bisa diakses melalui fasilitas milik pemerintah kolonial Belanda.
Peletak Dasar Amal Usaha Sosial yang Inklusif
Keberhasilan mendirikan klinik kesehatan tidak membuat H.M. Syudja’ cepat puas.
Kerja kerasnya terus berlanjut hingga ia berhasil mewujudkan cita-cita sosial lainnya, yakni membangun rumah miskin serta panti asuhan bagi anak-anak yatim piatu.
Melalui kerja-kerja nyata tersebut, H.M. Syudja’ sukses meletakkan fondasi fundamental bahwa dakwah Islam di dalam Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada batas mimbar dan ceramah agama semata.
Dakwah harus hadir menjawab persoalan riil di tengah masyarakat melalui aksi pelayanan sosial kemanusiaan.
Hebatnya lagi, pelayanan ini diberikan secara universal kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa pernah memandang latar belakang agama, suku, maupun golongan.
Warisan Abadi yang Mendunia dari Sabang hingga Merauke
Apa yang ditanam oleh H.M. Syudja’ seabad lalu kini telah berbuah manis dan dirasakan oleh jutaan masyarakat Indonesia.
Ide sederhana yang dahulu sempat dipandang sebelah mata telah tumbuh menjadi salah satu jaringan amal usaha kesehatan terbesar di tanah air.
Kini, jejaring layanan kesehatan tersebut dikenal luas sebagai RS PKU Muhammadiyah.
Dari Sabang sampai Merauke, ratusan rumah sakit dan klinik berdiri kokoh meneruskan visi kemanusiaan H.M. Syudja’, membuktikan bahwa ketulusan niat dan kerja keras yang dilandasi kepedulian sosial akan selalu menemukan jalannya untuk berkembang dan memberi manfaat luas bagi peradaban bangsa.




