
Haedar Nashir Tinjau Dakwah Muhammadiyah di Pedalaman Kalimantan, Letakkan Batu Pertama Gedung Dakwah Alabio
July 27, 2026
Dari Rahim Muhammadiyah untuk Ibu Pertiwi: Keteladanan Fatmawati Penjahit Sang Saka Merah Putih
July 29, 2026Menembus Batas Zaman: Perjalanan Hidup dan Keteladanan Prof. Kiai Haji Abdul Kahar Mudzakkir
Oleh Zenza TekSas ( Ir. H. Zen Zainul HP., CWC., CHt)
– Seniman Kemerdekaan, Peraih Rekor MURI
– Ketua LSBO PDM Kota Bekasi
Lahir di kawasan bersejarah Kotagede, Yogyakarta, pada tahun 1907, Prof. Kiai Haji Abdul Kahar Mudzakkir tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai keagamaan dan semangat perniagaan.
Ayahnya, Mudzakkir, adalah seorang pedagang yang menanamkan etos kerja keras, sementara kakeknya, Hadji Masyhudi, tercatat sebagai salah satu tokoh perintis pendirian Muhammadiyah di Kotagede pada era 1920-an.
Latar belakang keluarga yang religius dan progresif ini membentuk fondasi karakter Abdul Kahar sejak dini.
Ia mengawali pendidikannya di SD Kleco sebelum memperdalam ilmu agama di berbagai pesantren terkemuka di selatan Keraton Yogyakarta, seperti Pesantren Gading dan Krapyak.
Jiwa pencari ilmunya terus membara hingga ia melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Pesantren Jamsaren di Solo serta Madrasah Mambaul Ulum.
Perpaduan antara pendidikan formal dan tradisi pesantren inilah yang kemudian melahirkan seorang intelektual ulung yang siap mendedikasikan hidupnya untuk umat dan bangsa.
Menimba Ilmu di Kairo dan Jaringan Pergerakan Internasional
Ketertarikan Abdul Kahar untuk memperluas cakrawala dunia membawanya menunaikan ibadah haji ke Mekah saat usianya baru menginjak 18 tahun.
Dari tanah suci, ia melanjutkan langkahnya ke Mesir untuk menimba ilmu di Universitas Al-Azhar dan kemudian pindah ke Darul Ulum.
Selama 13 tahun bermukim di Kairo, ia tidak hanya fokus pada studi akademisnya, tetapi juga aktif membangun jejaring dengan tokoh-tokoh dunia Islam, termasuk kedekatannya dengan ulama Sunni terkemuka, Sayid Qutub.
Selama di Timur Tengah, semangat antikolonialisme dalam diri Abdul Kahar semakin berkobar.
Ia terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa asal Asia Tenggara yang menentang penjajahan.
Pengakuan atas kapasitas intelektual dan diplomasinya kian nyata ketika Mufti Besar Palestina, Sayid Amin Huseini, mengundangnya secara khusus untuk menghadiri Muktamar Islam Internasional di Palestina pada tahun 1931 sebagai representasi pemuda Asia Tenggara.
Pengalaman internasional ini memperkaya sudut pandangnya tentang pentingnya kemerdekaan dan persatuan umat Islam global.
Kembali ke Tanah Air dan Pengabdian di Muhammadiyah
Kepulangannya ke tanah air pada tahun 1938 menjadi babak baru perjuangan Abdul Kahar Mudzakkir.
Ia langsung mendedikasikan energinya untuk Muhammadiyah dengan memegang amanah sebagai Direktur Madrasah Mualimin.
Tidak berhenti di situ, ia juga memperluas gerakan sosial dan kepemudaan melalui Pemuda Muhammadiyah serta Majelis Pembina Kesejahteraan Umat (PKU).
Geliat politiknya pun tak kalah cemerlang. Abdul Kahar bergabung dengan Partai Islam Indonesia (PII)—sebuah partai pecahan dari Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII)—bersama tokoh-tokoh besar nasional seperti KH Mas Mansoer, HM Rasjidi, dan Soekiman Wirjosandjojo.
Puncaknya, pada Kongres PII tahun 1940, ia dipercaya untuk duduk sebagai jajaran unsur pimpinan pusat partai tersebut, sebelum akhirnya seluruh kegiatan politik dibatasi dan dibubarkan pada masa pendudukan Jepang.
Peran Strategis dalam Perumusan Dasar Negara dan Panitia Sembilan
Ketika angin kemerdekaan mulai berhembus melalui sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), nama Abdul Kahar Mudzakkir turut diperhitungkan sebagai representasi tokoh Islam yang kritis dan visioner.
Gagasan dasar negara yang disampaikan Sukarno pada 1 Juni 1945 sempat memicu dinamika dan perdebatan panjang di antara para founding fathers akibat perbedaan pandangan kelompok nasionalis dan Islam.
Untuk menjembatani jurang perbedaan tersebut, dibentuklah Panitia Sembilan yang beranggotakan tokoh-tokoh lintas golongan.
Bersama Sukarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Wahid Hasjim, AA Maramis, Achmad Soebardjo, Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Mudzakkir memegang peran krusial dalam merumuskan Piagam Jakarta yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila. Sumbangsih pemikirannya memastikan bahwa nilai-nilai keislaman dan kebangsaan terakomodasi secara harmonis dalam fondasi Republik Indonesia.
Kepemimpinan Akademis dan Warisan Abadi Sang Rektor Pertama
Selepas proklamasi kemerdekaan, pengabdian Abdul Kahar tidak surut di bidang politik praktis semata.
Ia beralih memimpin dunia pendidikan tinggi Islam di tanah air dengan menjabat sebagai Rektor Pertama (Rektor Magnificus) Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).
Ia memimpin institusi tersebut selama dua periode berturut-turut, yakni pada rentang tahun 1945–1948 dan 1948–1960, meletakkan fondasi pendidikan tinggi Islam yang moderat, mandiri, dan berkualitas di tengah situasi revolusi fisik yang penuh ketidakpastian.
Atas seluruh dedikasi, pengorbanan, dan jasa besar yang telah diberikan bagi kedaulatan bangsa dan pembangunan karakter intelektual bangsa Indonesia, negara memberikan penghormatan tertinggi.
Pada 8 November 2019, Presiden Joko Widodo secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Prof. Kiai Haji Abdul Kahar Mudzakkir, mengabadikan namanya sebagai teladan abadi bagi generasi penerus bangsa.




