
Semarak Kemerdekaan bersama AkustikMU di CFD Lagoon
July 20, 2026
Akademi Jurnalistik Muhammadiyah Cetak Humas Sekolah yang Profesional dan Berintegritas
July 20, 2026Buya Syafii Maarif: Sang Lokomotif Moderasi yang Melampaui Zaman
Zenza TekSas (Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt )
Ketua LSBO PDM Kota Bekasi, Seniman Kemerdekaan, Peraih Rekor MURI
Di panggung sejarah Indonesia, sedikit tokoh yang mampu berdiri tegak sebagai kompas moral sekaligus pemikir ulung yang menembus sekat-sekat perbedaan. Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, atau yang akrab disapa Buya Syafii, adalah salah satunya.
Sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998–2005, beliau tidak hanya memimpin sebuah organisasi, tetapi menuntun arah pemikiran Islam di Indonesia di tengah gejolak transisi reformasi yang penuh tantangan.
Akar Pemikiran yang Luas dan Terbuka
Lahir di Sijunjung, Sumatera Barat, Buya Syafii tumbuh dengan memadukan nilai keislaman yang kental dengan wawasan dunia yang luas.
Langkah akademiknya membawanya hingga ke University of Chicago, Amerika Serikat. Di sana, di bawah bimbingan langsung pemikir progresif Fazlur Rahman, Buya membentuk pola pikir yang rasional, metodologis, dan inklusif.
Pendidikan inilah yang kemudian menjadi “bahan bakar” bagi gagasan-gagasannya yang selalu mengedepankan akal sehat dan semangat kemanusiaan.
Merawat Indonesia dalam Kebinekaan
Bagi Buya Syafii, Islam bukan sekadar ritual, melainkan napas yang menghidupkan toleransi.
Beliau adalah lokomotif pemikiran moderat yang percaya bahwa kebinekaan Indonesia adalah aset, bukan ancaman.
Konsistensinya dalam memperjuangkan kerukunan lintas agama bukan sekadar wacana; hal ini terbukti saat beliau dipercaya memegang amanah internasional sebagai Presiden “World Conference on Religion for Peace” (WCRP).
Beliau menjadi bukti nyata bahwa seorang Muslim bisa menjadi warga dunia yang merangkul perdamaian tanpa kehilangan identitasnya.
Penjaga Moral di Era Reformasi
Setelah menuntaskan pengabdiannya di Muhammadiyah, Buya tidak lantas berhenti.
Melalui Maarif Institute, beliau terus bersuara.
Tulisan-tulisannya menjadi “oase” di tengah hiruk-pikuk politik tanah air.
Beliau dikenal sebagai kritikus yang lugas, tajam, namun tetap objektif.
Beliau tidak mencari popularitas, melainkan menjaga marwah bangsa agar tidak melenceng dari cita-cita luhur kemanusiaan dan keadilan sosial.
Warisan Abadi bagi Bangsa
Pengakuan terhadap dedikasinya pun datang dari dunia internasional.
Pada tahun 2008, pemerintah Filipina menganugerahkan penghargaan Ramon Magsaysay—sebuah penghormatan tertinggi atas kontribusinya dalam perdamaian dan kemanusiaan.
Kisah inspiratif perjalanan hidupnya, yang berawal dari seorang anak kampung di Sumatra hingga menjadi sosok cendekiawan kelas dunia, bahkan diabadikan dalam karya sastra dan film berjudul “Si Anak Kampung”.
Ketika Buya Syafii wafat pada 27 Mei 2022, Indonesia kehilangan seorang “ayah” bangsa.
Namun, warisan pemikirannya tetap hidup.
Beliau telah meletakkan pondasi tentang bagaimana menjadi Muslim yang taat sekaligus Indonesia yang terbuka.
Di tengah zaman yang sering kali penuh polarisasi, sikap moderat, toleran, dan progresif yang beliau ajarkan justru terasa semakin relevan dan dibutuhkan oleh setiap elemen bangsa hari ini.
Buya Syafii bukan sekadar tokoh masa lalu, beliau adalah penunjuk arah bagi masa depan Indonesia yang lebih damai dan bermartabat.




